Home / Pengembangan Kelembagaan / Pengembangan Kapasitas / Buku-Buku Penting untuk Mahasiswa Baru

Buku-Buku Penting untuk Mahasiswa Baru

Tahun ajaran baru bagi para mahasiswa akan dimulai. Masa menjadi mahasiswa adalah masa-masa yang sungguh menyenangkan. Di sanalah jati diri dari para pemuda-pemudi digodok dan ditempa. Maka betul sekali apa yang didendangkan oleh Haji Rhoma Irama lewat lagu berjudul Darah Muda, bahwa masa muda adalah masa yang berapi-api.

Untuk membuat api tetap membara, kali ini tim Huma merekomendasikan beberapa buku yang barangkali bisa jadi pedoman bagi muda-mudi mahasiswa baru. Tentu buku ini tak harus jadi bacaan wajib bagi mereka. Paling tidak, nggak ada salahnya membaca buku-buku ini di kala senggang.

  1. Rudy Badil dan Indro Warkop (ed), Main-Main Jadi Bukan Main, KPG, 2010.

Idola jadi hal penting bagi anak muda. Sebelum idealisme para mahasiswa terbentuk biasanya mereka akan melakukan interaksi sosial yakni imitasi. Imitasi adalah proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain yang  menjadi idola, baik sikap penampilan, gaya hidupnya, bahkan apa-apa yang dimilikinya. Kali ini tim Huma tak merekomendasikan tokoh-tokoh negarawan atau tokoh-tokoh pejuang yang harus dijadikan imitasi idola para mahasiswa. Tokoh di buku ini mengambil tokoh grup legendaris komedian Warkop. Mereka sama-sama berkutat pada dunia aktivisme kemahasiswaan di UI, tapi berbeda dengan aktivis lainnya, mereka mengambil humor dan lawak sebagai alat kritik pemerintah. Buku ini kami didedikasikan pula atas berpulangnya salah satu pendiri Warkop Rudi Badil baru-baru ini, pada 12 Juli 2019.

 

2.  Ernst H. Gombrich, Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda, Marjin Kiri, 2015

Haus akan segala keingintahuan adalah sifat alami di kala muda. Buku ini cocok untuk muda-mudi yang gemar obrolan santai dan akrab tapi tetap bercerita mengenai sejarah dunia dari segala aspek. Gombrich serasa jadi kakek yang lagi mendongengkan kita di waktu libur semesteran sambil nunggu pengumuman ujian.

 

3. Malcolm Caldwell dan Ernst Utrecht, Sejarah Alternatif Indonesia. Djaman Baroe dan Sajogyo Institute, 2011. 

Jangan biarkan para dosen kalian memberikan buku-buku membosankan sesuai diktat kurikulum macam buku Dasar-Dasar Ilmu Politiknya Miriam Budiardjo atau Sejarah Nasional Indonesianya Nugroho Notosusanto. Berikan pula kesempatan pada narasi-narasi alternatif sebagai tumpuan daya kritis anda sebagai mahasiswa baru. Buku ini dapat jadi alternatif itu. Kami kasih bocoran satu hal kenapa ini berbeda, yaitu penulisnya tak hanya dosen tapi juga aktivis perlawanan atas kediktatoran. Tau dong siapa yang jadi diktator di negeri kita? Hehe.

 

4. Karen Amstrong, Sejarah Tuhan, Mizan 2011. 

Di tengah politik identitas di Indonesia yang masif belakangan ini, buku ini memang agak ngeri-ngeri sedap dari sisi judul. Berani-beraninya Tuhan kok ditulis sejarahnya. Tapi begitu kita membacanya, kita dapat menemukan banyak fakta dan wawasan mengenai agama-agama yang muncul di dunia ini. Kita jadi mendudukannya secara logis dan masuk akal. Setidaknya buku ini dapat jadi modal sikap skeptisme anda sebagai mahasiswa terhadap agama yang ada sekarang.

 

5. Gorys Keraf, Komposisi, Nusa Indah, 1994.

Menyusun karya tulis ilmiah tidaklah mudah. Tapi mau nggak mau kalau kita jadi mahasiswa itulah yang jadi makanan kita sehari-hari. Selain dituntut untuk berlatih terus-menerus, juga harus menguasai teori menyusun karya tulis itu dengan baik dan benar. Buku ini disusun untuk membekali siapa saja yang ingin menjadi penulis sesuai dengan kaidah akademik. Dijamin, buku ini akan berguna dari semester 1 sampai anda lulus.

 

6. Ariel Heryanto, Identitas dan Kenikmatan Politik Budaya Layar Indonesia. KPG, 2018.

Muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga.  Muda-mudi harus mendapat kenikmatan hakiki tersebut. Barulah kita akan membentuk dengan sendirinya identitas kita siapa. Identitas dan kenikmatan akan selalu berjalan beriringan. Gambaran kenikmatan yang absurd dalam mengurai identitas kelas menengah perkotaan lewat layar itulah yang bisa didapat ketika membaca buku ini. Buku ini cocok juga bagi anda yang doyan maraton film.

 

7. Henk Schulte Nordholt (ed.) Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan. LKiS, 2005. 

Kalau kamu bergaya, maka kamu akan eksis di dunia. Inilah pentingnya membaca buku ini. Kumpulan esay yang diedit oleh Henk ini menggambarkan pakaian tak hanya gumpalan kapas dan rajutan dari benang-benang semata. Ia menjelaskan peran dan arti pakaian dalam pergaulan sosial. Kalau anda bersiap jadi mahasiswa yang necis di kampus, anda harus baca dulu buku ini. Jangan sampai anda gagal total jadi trendsetter [.]

 

Check Also

Laporan Tahunan Huma 2018

Dalam perjalanan advokasi di tahun kemarin (2018), kami teringat lagu Slank “Jurus Tandur”, kepanjangan dari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *