Home / Pendamping Hukum Rakyat / Aktivitas / Di Pasir Eurih Pembangunan Masyarakat Dimulai, Bukan di Hotel-Hotel Mewah.

Di Pasir Eurih Pembangunan Masyarakat Dimulai, Bukan di Hotel-Hotel Mewah.

Laporan dari Supriadi dan Wardathul Zanna (RMI)

Ayo mas ke sekolah,” teriak ibu-ibu saat handuk masih menempel di leher Waris, seorang fasilitator komunitas dari RMI. Jam belum menunjukkan pukul 09.00 WIB tapi peserta kegiatan sudah mulai berkumpul di lokasi acara. Jumlah peserta di hari pertama sebanyak 28 orang. Terdiri atas 10 orang perempuan dan 18 orang laki-laki. Kegiatan dibuka dengan mengenalkan tujuan umum kegiatan Sekolah Lapang Hutan Adat supaya peserta kegiatan dapat memahami makna dan tujuan belajar kegiatan. Tentu awal yang masih kaku dan malu-malu.

Guna mencairkan suasana, peserta kegiatan dan fasilitator saling berkenalan dengan cara yang menarik. Setiap peserta kegiatan dan fasilitator mengenalkan diri dengan format: nama panggilan – makanan favorit – idola/tokoh favorit. Untuk mengetahui harapan dan kekhawatiran  yang dimiliki oleh peserta kegiatan selama mengikuti Sekolah Lapang Hutan Adat (SLHA), peserta kegiatan diberikan kertas lalu dipersilakan untuk menulis  harapan  dan  kekhawatirannya.  Koh Indra sebagai fasilitator lalu  membacakan  satu  per-satu tulisan-tulisan peserta kegiatan tersebut supaya saling berbagi harapan dan kekhawatiran yang dimiliki. Fasilitator memberikan gambaran apa saja harapan dan kekhawatiran yang bisa difasilitasi/dibahas dalam kegiatan SLHA ini.

Peserta kegiatan  diajak  bermain  ‘Deskripsi  Kata’.  Semua  peserta  dan  fasilitator berperan sebagai guru dan murid dalam permainan ini. Setiap peserta kegiatan secara berkelompok (setiap kelompok beranggotakan tiga orang) diminta menjelaskan kata- kata yang kelompok mereka dapa Setiap kata merupakan kata-kata yang familiar dengan Kasepuhan, misal rendangan (percabangan Masyarakat Adat Kasepuhan), bintang kidang dan bintang kerti (bintang tujuh dan bintang tiga yang menjadi tanda bagi petani untuk mulai bercocok tanam), leuit kasepuhan (lumbung padi untuk menyimpang pare gede), pare gede (varietas padi berbulir besar yang ditanam Masyarakat Adat Kasepuhan), Dewi Sri (dewi padi yang dipercaya memberikan kesuburan pada lahan dan pertanian), dan kata-kata kasepuhan lainnya. Selama proses presentasi tiap kelompok, setiap peserta dan fasilitator dipersilakan untuk bertanya atau  menambahkan  informasi.  Disinilah  terjadi  proses  saling  belajar.  Di  akhir kegiatan ini, Supriadi dan Warda (RMI) memancing peserta untuk merefleksikan apa saja informasi- informasi yang telah baru dipelajari. Peserta kegiatan merasa terbantu karena banyak istilah-istilah adat yang sebelumnya belum mereka ketahui lebih dalam—meskipun istilah-istilah tersebut familiar di dengan oleh peserta kegiatan. Acara sekolah lapang Pasir Eurih ini berlangsung di kantor desa lama. Praktikum berlangsung benar-benar di lapangan depan pemakaman warga, bukan di hotel-hotel megah seperti para pembangun desa melakukan acara-acara pada bulan Oktober hingga Desember, tatkala anggaran belum terserap banyak.

Materi lanjutan disampaikan oleh Koh Indra dengan materi Sejarah Masyarakat Adat Kasepuhan. Tujuan pemyampaian materi ini   untuk   memberikan   pengetahuan   mengenai   asal   mula   keberadaan Masyarakat Adat Kasepuha Materi yang disampaikan mulai dari sejarah Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda-Galuh (Pajajaran) dan catatan-catatan (prasasti) mengenai kerajaannya, proses penyebaran Islam di wilayah Banten dan pengaruhnya pada kelompok masyarakat pada saat itu, runtuhnya Sunda-Galuh tahun 1579 M, setelah Kerajaan Pajajaran muncul Kesultanan Banten dan Tembong Buana, beberapa migrasi besar yang terjadi ke pedalaman Halimun (salah satunya laskar pasukan Kerajaan Pajajaran tahun 1579 M karena kerajaannya runtuh), Pancer Pangawinan dan  Pancer  Mandiri,  pedoman-pedoman  hidup  Masyarakat  Kasepuhan  (doa  amit; jalan  tengah;  berbuat   baik,  menepati  janji,  tolong  menolong),  filosofi  dalam mengelola  lingkungan  (gunung  kayuan,  lamping  awian,  lebak  sawahan,  legok balongan jeung datar imahan), pengaturan tata ruang (leweung titipan, leweung titipan, sempalan).

Dari materi itu kita dapat tahu bahwa ada pelbagai macam istilah dalam Kasepuhan: sepuh (tua) – kolot – olot, merujuk pada kelompok oleh seseorang yang dipimpin  oleh  sesepuh  (kokolot/abah).  Menurut  Kesatuan  Adat  Banten  Kidul (Sabaki): 522 (kelompok) kasepuhan, pada wilayah 116.789 hektar. Terdapat 108 desa yang sebagian/seluruh wilayahnya berada dalam dan/atau berbatasa langsung dengan TNGHS. Menurut RMI (2004) ada 35 kelompok kasepuhan dengan 7 kelompok kasepuhan utama. Pertanian: culturstelsel (abad 17-20), budaya bersawah, dan 1942-1942 pemerintahan Jepang menganjurkan mengganti tanaman perkebunan dengan tanaman pangan. Kekhasan pertanian kasepuhan dan pengawetan di leuit.

Kegiatan hari pertama selesai pada pukul 15.30 WIB. Kabar dukapun merundung kami semua di Pasir Eurih. Sesi malam batal dilaksanakan karena mayoritas peserta kegiatan akan menghadiri tahlilan di Rumah Carik (Ibu dari Bapak Carik meninggal). Sebelum pulang, disepakati bahwa kegiatan SLHA hari kedua akan dimulai pukul 08.00 WIB esok hari.

HARI KEDUA (SABTU, 17 NOVEMBER 2018)

“Ngopi dulu atuh Kang,” ajakan Mas Kacong kepada kami yang ngekos di sekitaran rumah warga. Kegiatan dimulai pada pukul 08:00 WIB yang dibuka dengan ice breaking Tugu Pancoran hingga pukul 08.50 WIB. Kegiatan ini selain untuk membangun semngat peserta dalam mengikuti kegiatan, juga bertujuan untuk melatih kesigapan peserta ketika dihadapkan pada sebuah tantangan. Jumlah peserta di hari kedua sebanyak 28 orang. Terdiri atas 10 orang perempuan dan 18 orang laki-laki. Peserta diminta  untuk   mengulangi   materi   yang   telah   disampaikan   pada   hari sebelumnya. Review peserta (istilah-istilah adat dan pengertiannya). Rendangan  adalah  sebutan  untuk  wilayah  cabang  kasepuhan:  Gunung  Bongkok adalah wilayah batas kasepuhan; Pare Gede adalah simbol padi kasepuhan;  Dewi Sri adalah sebutanalain dari padi yang berarti ibu; Leuit adalah tempat penyimpanan padi; tatali  paranti  karuhun  adalah  tali  yang  merupakan  sebuah  aturan  dan  menjadi kebiasaan atau tradisi. Penyampaian materi berikutnya datang dari HuMa oleh Agung Wibowo.

Materi dibuka dengan menanyakan kepada peserta mengenai pengetahuan mereka terkait Hutan Adat yang sedang diajukan oleh Kasepuhan Pasir Eurih. Selanjutnya pemateri menampilkan gambar dan menanyakan pendapat peserta tentang gambar yang ditampilkan. Materi dilanjutkan oleh Pemetaan sosial. Pengertiannya adalah  merupakan    dasar-dasar    untuk    mengorganisir kelompok, masyarkat, bahkan diri sendiri. Metode-metode dalam pemetaan sosial, antara lain;

Tipologi komunitas

Identifikasi keberadaan tipologi komunitas

Siapa yang berdiam di dalam dan sekitar desa?

Sejak kapan mereka tingga di lokasi?

Mengapa mereka tinggal di lokasi tersebut?

Bagaimana perkembangan kehidupan warga saat pertama hingga saat ini?

Metode identifikasi tipologi komunitas:

Alur Sejarah: Metode identifikasi dengan menguraikan hal-hal penting yang terjadi dalam jangka waktu tertentu. Terdiri atas dua kolom utama, kolom kiri berisi tahun penting dan kolom kanan berisi uraian peristiwa yang terjadi pada kolom tersebut. Data yang digunakan dalam metode alur sejarah berasal dari lisan atau hasil pemaparan pakar peristiwa.

Kelembagaan Sosial

Identifikasi kelembagaan komunitas:

Lembaga apa yang terbentuk di masyarkat?

Bagaimana pengaruh lembaga tersebut terhadap masyarakat)

Seberapa besar pengaruh lembaga di masyarakat?

Jarak lembaga tersebut di masyarkat

Metode Identifikasi:

Diagram Venn: digambarkan dengan menggunakan lingkaran dan garis yang terhubung antar lingkaran masyarakat dan lingkaran kelembagaan. Komponen masyarkat digambarkan di posisi tengah dan dengan ukuran yang paling besar. Selanjutnya   di   sekitar   lingkaran   masyarakat   tersebut di  gambar beberapa lingkaran-lingkaran lembaga yang terdapat di sekitar masyarakat. Semakin besar lingkaran menandakan bahwa lembaga tersbut memilki pengaruh yang besar terhadap masyarakat. Jauh dekatnya lingkaran menandakatan jarak lembaga tersebut  dengan  pusat pemukiman  masyarkat.  Semakin  jauh  jarak  lingkaran dengan masyarakat, menandakan letak lembaga tersebut semakin jauh dengan pemukiman masyarakat. Pada gambar akan terdapat sebuah garis merah putus-putus yang mengelilingi lingkungan masyarkat, garis tersebut menandakan batas administrasi wilayah desa. Lingkaran lembaga yang berada di luar garis merah menandakan bahwa lembaga tersebut berda di luar area desa namun masih memiliki pengaruh dengan desa.

Analisa aktor:

Untuk mengetahui aktor-aktor penting yang berperan dalam sebuah lembaga dan aktor lain yang memiliki pengaruh terhadap kebiasaan penduduk desa. Metode diagram Venn juga bisa digunakan untuk Analisa aktor.

Analisa Gender:

Untuk mengetahui peran dan jumlah gender dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang umum dilakukan oleh masyarakat desa. Analisa gender dapat dilakukan dengan menggunakan tabel gender.

Analisa Tenurial

Tenurial merupakan ruang dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya, baik itu konflik, kepemilikan, dan sumber daya yang terdapat di atas dan dalam ruang. Hal-hal yang diidentifikasi melalui Analisa tenurial dan konflik:

–    Sumber daya yang terdapat di dalam ataupun di atas tanah

–    Kegiatan pengelolaan sumber daya

–    Menemukan sistem penguasaan tanah

–    Siapa saja yang memiliki tanah

–    Bagaimana hubungan antar pemilik tanah

–    Bagiman mereke menggunakan dan memanfaatkan tanah

–    Tumpang tindih dalam klaim tanah

–    Menghindari terganggunya hak atau akses masyarakat ketika restorasi dilakukan

Metode yang dapat dilakukan untuk analisa tenurial dan konflik adalah Sketsa Kasepuhan. Metode ini dipraktikkan langsung oleh peserta yang dibagi menjadi beberapa kelompok. Dimulai pukul: 10.15 WIB hinnga pukul 12.25 WIB.

Analisa Konflik

Analisa konflik dilkukan untuk mengindentifikasi permasalah yang menyebabkan konflik di masyarakat. Sebab-sebab konflik yang diidentifikasi menyangkut :

–    Apa permasalahan yang memicu konflik?

–    Pihak dan lembaga mana saja yang terlibat konflik?

–    Siapakah pihak atau lembaga yang dirugikan dalam konflik?

–    Siapakah pihak atau lembaga yang memicu terjadinya konflik?

–    Bagaimana solusi terbaik dalam penyelesaian konflik?

Dalam analisa konflik peserta diajak untuk  berpartisipasi memainkan  peran  dalam sebuah cerita yang telah dibuat oleh fasilitator. Peserta diminta untuk menyelesaikan konflik antar dua desa yang saling berselisih akibat adanya perushaaan sawit yang masuk ke salah satu desa dan mencemari lingkungan desa yang lain. Dalam simulasi tersebut ada peserta yang berperan sebagai kepala desa, fasilitator, negosiator, petugas keamaan, direktur perusahaan, wartawan nasional, wartawan internasional. Hasil dari simulasi tersebut peserta mampu mengeindetifikasi permasalahan, lembaga atau pihak yang terlibat serta jalan tengah penyelesaian konflik dari simulasi. Kegiatan hari  kedua  selesai  pada  pukul  17:00  WIB.  Sebelum  pulang,  disepakati bahwa kegiatan SLHA hari ketiga akan dimulai pukul 08.00 WIB esok hari.

HARI KETIGA (MINGGU, 18 NOVEMBER 2018)

“Pri, lu mandi lama amat!” tegur Bramanta (HuMa) kepada Supriadi (RMI) yang membuat antrian mandi kami memakan waktu cukup lama. Kegiatan dimulai pada pukul 08.45 WIB. Jumlah peserta di hari ketiga sebanyak 26 orang. Terdiri atas 10 orang perempuan dan 16 orang laki-laki. Peserta kegiatan diminta untuk me-review hasil yang didapat pada hari sebelumnya. Hasil review kegiatan oleh peserta pada hari itu antara lain; Kegiatan negosiasi: ada beberapa warga yang tidak memiliki kesempatan untuk memainkan perannya. Dalam kehidupan banyak hal semacam ini terjadi, dimana banyak masyrakat  yang ingin menyampaikan pendapatnya namun tidak diberi kesempatan oleh pihak-pihak yang bersuara besar. Kegiatan sketsa desa: setelah peserta memprestasikan sketsa desa yang dibuat, ternyata banyak peserta yang belum mengetahui tetang Gunung Bongkok sebagai salah satu batas wilayah adat kasepuhan. Peserta memberikan apresiasi terhadap materi yang disampaikan oleh pemateri. Materi  yang  disampaikan  seperti  transek  desa  dipandang  sangat  pentig  untuk diketahui.

Aktivitas dilanjutkan dengan permainan kartu merah dan kartu hijau. Permainan ini dipandu oleh Sifu dan Koh Indra (RMI) diikuti oleh lima kelompok yang masing-masing orang dalam kelompok memegang kartu hijau dan kartu merah. Tujuan dari permainan adalah melihat kekompakan dari masing-masing peserta di dalam kelompoknya, kekompakan antar kelompok, serta koordinasi antar kelompok. Nilai yang dapat diambil dari permainan adalah: tiap kelompok yang memiliki kepentingan yang sama, yaitu untuk mendapatkan point tertinggi demi hadiah yang dijanjikan oleh fasilitator. Apabila setiap kelompok saling berkoordinasi untuk  memunculkan satu warna, yaitu warna merah, maka setiap kelompok akan mendapatkan nilai yang sama dengan point tertinggi yang akan didapat dari 10 kali permainan adalah 30 point. Sehingga masing- masing keolompok akan mendapatkan hadiah yang dijanjikan oleh fasilitator. Namun, kenyataannya tiap kelompok berusaha untuk menunjukkan eksitensi diri dan tidak saling berkoordinasi demi mencapai tujuan yang sama, sehingga tidak ada yang mendapatkan point maksimal.

Apabila dianalogikan dalam sebuah adat kasepuhan, dalam permainan tiap kelompok adalah desa-desa dalam sebuah kasepuhan. Terkait dengan kasus Hutan Adat di kasepuhan, Seharusnya dalam mendapatkan hak dalam pengelolaan Hutan Adat, masyarakat harus melakukan kooridinasi bersama-sama demi mencapai tujuan secara bersama-sama. Identifikasi permasalahan di Kasepuhan di Desa Pasir Eurih dan perencanaan solusi permasalahan. Kegiatan ini merupakan aktivitas penutup pelaksanaan SLHA seri pertama. Selain mengajak peserta SLHA untuk aktif memikirkan permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi, peserta juga diberikan kesempatan untuk memikirkan solusi permasalahan dan fasilitas yang dibutuhkan. Di sisi lain informasi yang peserta sampaikan juga nantinya dapat memberikan sejumlah gagasan bagi fasilitator untuk merancang kegiatan SLHA seri kedua. Misalnya dapat ditentukan prioritas kebutuhan dan/atau masalah yang dihadapi Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih, lalu keterampilan/kegiatan apa yang dapat difasilitasi pada sesi SLHA selanjutnya.

Kegiatan hari ketiga selesai pada pukul 17:00 WIB. Fasilitator mendokumentasikan semua hasil kinerja peserta kegiatan, lalu membuat video singkat mengenai kesan para peserta kegiatan selama mengikuti SLHA. Acara ditutup dengan para peserta menyampaikan kesan yang memuat satu kata untuk mendeskripsikan keseluruhan kegiatan SLHA selama tiga hari. Setelah selesai, fasilitator dan  peserta  kegiatan  berfoto  bersama.  Fasilitator  juga  menyampaikan bahwa akan dilaksanakan SLHA Seri 2—namun perihal waktu pelaksanaan kegiatan akan diinformasikan kemudian [.]

About HuMa

Check Also

Pemetaan Sistem Hukum dan Pencatatan Hukum di Kasepuhan

oleh Erwin Dwi Kristianto Pagi itu di sekitar taman kopi saya sedang menikmati teh hangat. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *