Home / Pendamping Hukum Rakyat

Pendamping Hukum Rakyat

Para Pendamping Hukum Rakyat (sebagaimana didefinisikan dalam Lokakarya Lembang, 12 – 14 Desember 2007) adalah “orang-orang yang bekerja dalam gerakan sosial untuk memberdayakan sumber daya hukum rakyat dan atau melakukan pembaharuan hukum Negara menuju keadilan sosial dan ekologis”.

Terdapat 5 (lima) karakteristik utama pendamping hukum rakyat, yakni:
[1] Menegaskan hak masyarakat adat dan lokal atas tanah dan sumber daya alam sebagai fokus utama dalam kerja-kerja PHR;
[2] Menegaskan perlunya ruang otonom bagi pelaksanaan hak-hak sebagai
syarat perlu (necessary condition);
[3] Memperjuangkan keberadaan hukum lokal sebagai syarat cukup (sufficient condition) bagi pelaksanaan hak masyarakat adat dan lokal atas tanah dan sumber daya alam;
[4] Sasaran dan subjek dalam kerja PHR adalah masyarakat adat dan lokal; serta
[5] Pendekatan dan metode yang digunakan adalah pendekatan hak dan metode-metode partisipatoris.

Sekolah Lapang : Evaluasi dan Refleksi

oleh Bimantara Adjie W. Sleman, 11 – 17 Februari 2018 – Sekolah pengorganisasian masyarakat dan advokasi kebijakan hutan adat serta perhutanan sosial adalah metode pendampingan yang merupakan penggabungan Involvement (INSIST) dan SPHR (HuMa). Tujuan sekolah adalah menjawab tantangan pasca penetapan dan peluang pemberian izin serta pengembalian lahan masyarakat yang hidup …

Read More »

Cerita dari Wana (2)

Titik Berangkat “Ngopi dulu Bung” sanggah Edi Wicaksono, Staf Program Hutan Adat Yayasan Merah Putih di sela-sela perbincangan. Kami sedang berdiskusi mengenai apa yang hendak kami pelajari di tempat belajar kami nanti, di Wana Posangke, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Mas Sentot memaparkan lebih dulu maksud dan tujuan mengenai kebudayaan …

Read More »

Cerita dari Wana (1)

Banyak hal dapat kita lakukan agar laku sejarah perjalanan kita dan pendahulu kita tetap sampai pada anak cucu kita. Di Wana Posangke, Sulawesi Tengah (1-15 Mei 2016) saya hanya melakukan sedikit dari banyak hal itu. Memotret, berbincang, dan berkelakar. Semoga dari  catatan yang sedikit ini dapat berbicara banyak bagi perjalanan …

Read More »

Mari Kita Ber-Muhasabah Atas Konflik SDA

Dua belas surat Al-Quran yang pertama turun di Mekkah (dari Al- ‘Alaq sampai Al- Insyiroh) justru berisi tentang pesan-pesan tauhid yang terhubung dengan semangat “Reformasi Sosial” tidak ada yang berupa perintah ibadah “mahdoh” (Dr. Johan Effendi). Ternyata dalam Al Quran, Tuhan berpesan kepada umatnya bahwa reformasi sosial seperti membaca, masalah …

Read More »