Sungai Garung

Letak Geografis

Kampung Sungai Garung secara administrasi terletak di Dusun Gurung Permai, Desa Gurung Sengiang, Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Kampung Sungai Garung memiliki secara adat berbatasan dengan tiga dusun, yakni sebelah Selatan dengan Mentibar; sebelah Barat dengan Melaku Kanan; sebelah Timur dengan Laman Gunung; dan sebelah Utara dengan Gobu wilayah Desa Tampang Benua. Jarak antara Kampung Sungai Garung dengan Daerah Kayaan kurang lebih 8 Km. sementara Jarak antara Kecamatan Serawai dan Menukung kurang lebih 3 jam menggunakan speedboad (kapal cepat).

Riwayat Area

Keberadaan Masyarakat Adat Dayak Melahui di Kampung Sungai Garung tidak terlepas dari proses migrasi oleh para orang tua, leluhur nenek moyang mereka zaman dulu kala. Dalam cerita yang masih diyakini mereka hingga sekarang, dikisahkan bahwa proses migrasi mereka telah berlangsung sejak tahun 1832, yakni dikisahkan mereka jauh sebelum Indonesia merdeka atau sejak zaman Pemerintahan Belanda. Pada zaman ini juga mereka telah mengenal sistem Pemerintahan Kampung dan Pemerintahan Adat yang didasarkan pada Pemerintahan Ketemenggungan dengan Tomenggung sebagai Pemimpin Adat Tertinggi. Kepala Kampung mereka yang pertama memerintah di Kampung Sungai Garung bernama Perentah (1832), sedangkan Temenggung mereka yang pertama bernama Raden Singo Toduk (1832–1870). Kampung Sungai Garung, secara Pemerintahan Adat berada dibawah Pemerintahan Ketemenggungan, yakni Ketemenggungan Nanga Mentibar, dengan wilayah adat meliputi kampung-kampung, yakni: Nanga Malape, Nanga Barahie, Laman Oras (dalam Barahie), Bukit Tunggal, Nanga Montu dan Nanga Sompak. Nama-nama Temenggung yang pernah memerintah di Ketemenggungan Nanga Mentibar adalah: Tomenggong Singo Toduk, Tomonggung Randui (1950-1982) dan Tomonggung T. Udan (2011 – sekarang). Sedangkan orang-orang pernah mejadi sebagai Kepala Kampung Sungai Garung yakni: Kerangkas, Nyambang, Randui, Acong dan L. Edar.

Sketsa Demografi

Jumlah penduduk Kampung Sungai Garung adalah 51 Kepala Keluarga dan 168 jiwa. Sehari-hari mereka menggunakan bahasa Dayak Melahui. Mereka juga kerap menggunakan bahasa ini di kecamatan. Tapi mereka menggunakan bahasa Indonesia, bahasa yang lebih dikuasai oleh orang mudah yang pernah sekolah, untuk berkomunikasi dengan orang luar. Sementara orang-orang tua, meski mengerti bahasa Indonesia, sulit menggunakan bahasa nasional ini. Masyarakat Adat Kampung Sungai Garung tidak lagi menempati rumah panjang. Mereka tinggal di rumah-rumah tunggal yang berderet di sepanjang jalan kampung. Di sekitar pemukiman itu terdapat simbol-simbol adat, seperti sandung atau tempat menyimpan tulang jenasah. Selain itu terdapat kebun karet, sayuran, durian, rambutan, langsat, mentawak, duku, pekawai, dan lainnya.

Potensi Sumber Daya

Masyarakat Adat Kampung Sungai Garung memanfaatkan Sumber Daya Alam-nya untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dengan cara berladang/beumo (ladang bukit dan dataran rendah/payak). Selain itu mereka menyadap getah karet, mencari rotan, berburu binatang liar di hutan, menangkap ikan, berkebun sayur, atau mengerjakan kayu di hutan untuk bahan bangunan rumah sendiri. Tanaman utama di ladang adalah padi. Selain padi mereka menanam jagung, ubi kayu, ubi jalar, ubi rambat, timun, kundur, perenggi, pari, sawi, jahe, dan talas. Mereka berladang dan memilih padi lokal yang dipanen sekali setahun berdasarkan kalender musim. Mereka mulai berladang di bulan Maret hingga bulan Maret tahun berikutnya. Luas rata-rata ladang yang dimiliki oleh masing-masing keluarga adalah antara 100-500 meter².

Potret Sosial Ekonomi Masyarakat

Masyarakat Adat Kampung Sungai Garung telah turun-temurun bermukim dan mengelola SDA sebagai sumber kehidupan mereka. Kehidupan mereka tidak bisa dipisahkan dari alam. SDA adalah “rumah bersama” di mana di dalamnya terkandung nilai-nilai ekonomi, ekologis, sosial, budaya dan nilai-nilai spiritual. Karena itu mereka menganggap SDA sangat perlu dijaga dan dilestarikan. Sejak tahun 1999 Masyarakat adat Sungai Garung secara tegas menolak keinginan berbagai perusahaan besar, seperti perkebunan kelapa sawit, pertambangan batu-bara, HPH/IUPHHK masuk ke wilayah adat mereka. Masyarakat Adat Sungai Garung tidak anti pembangunan. Mereka sadar, bahwa kalau para pemodal tersebut menguasai SDA, maka mereka tidak hanya kehilangan sumber mata pencariharian, tapi juga kehilangan indentitas mereka sebagai Suku Asli Melahui.

Tata Guna Lahan Komunitas

Kampung Sungai Garung secara administrasi terletak di Dusun Gurung Permai, Desa Gurung Sengiang, Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang Kalimantan Barat. Kampung ini terletak di hulu Sungai Melawi, dengan luas wilayah adat 7.097,09 hektar. Mereka membagi wilayah adat itu menjadi beberapa tata guna lahan, yakni: untuk kebun karet dan babas 1.617,35 ha; untuk pemukiman 1,50 ha; rimo/hutan primer 5.388,77 ha; kelokak/tembawang 89,47 ha. Pada tahun 2012 mereka memasang tanda/patok batas wilayah adat lagi yang berupa kayu belian/besi/ulin yang dibuat menyerupai Patung Manusia. Masyarakat Adat Kampung Sungai Garung mengelola SDA berdasarkan sistem tata guna lahan secara adat. Sistem itu mereka tuangkan dalam istilah lokal, yakni Rimo Tutum (hutan tutupan adat atau kawasan hutan yang telah disepakati bersama untuk dilindungi kelestarian dan keberlanjutannya), Tanah Adat (tanah atau wilayah adat yang disepakati untuk tidak diperjual-belikan terutama kepada pihak luar dan perusahaan skala besar), Kelokak (Tembawang adalah suatu tempat atau lahan bekas dukuh atau bekas pemukiman/kampung), Umo (Ladang adalah wilayah atau tempat yang disepakati untuk berladang atau bercocok tanam lainnya), Kobut (kebun adalah wilayah atau lahan yang berisi tanaman kebun karet, tengkawang, durian, langsat, pekawai dan lain-lainnya), Gupuk (Gupung adalah wilayah adat yang berisi berbagai jenis tanaman asli yang telah disepakati untuk tidak dimanfaatkan untuk apapun karena akan merusak tempat tersebut), Taratak (Dukuh adalah suatu tempat yang pernah dihuni dan terdiri dari pondok-pondok tempat tinggal sementara. Biasanya mereka tinggal di traktak bertahun-tahun tergantung pada lokasi mereka akan berladang tahun berikutnya), serta Kampung (tempat tinggal mereka hingga sekarang).

Persinggungan Dengan Kawasan Hutan

Pada tahun 2007 aktivitas HPHK mulai berkurang, beberapa perusahaan HPH tersebut tidak aktif lagi. Namun Suku Melahui, Uud Danum di Kampung Mentibar dan Sungai Garung mulai membicarakan isu akan masuknya perusahaan besar lainnya, seperti perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu-bara. Pada tahun 2008 isu itu mulai nampak. Pada tahun itu perusahaan pertambangan batu-bara mulai melakukan sosialisasi ke warga Suku Melahui dan masyarakat adat lainnya di Kecamatan Serawai. Pada tahun 2010 perusahaan perkebunan kelapa sawit― PT Sumber Hasil Prima (SHP) dan PT Sawit Andalan (SSA)―mulai hadir di wilayah adat Suku Melahui, Uud Danum di Kampung Sungai Garung, Mentibar dan di Kecamatan Serawai. Bupati Sintang memberikan izin lokasi kepada PT SHP dan PT SSA seluas 40.000 ha. Walaupun belum memiliki Hak Guna Usaha (HGU), namun kedua perusahaan itu sudah memulai survei dan menggusur berbagai tanaman, tempat keramat dan kuburan tua dari tanah/lahan milik masyarakat adat Kampung Sungai Garung. Pada tahun 2011 PT SHP dan SSA membentuk Satuan Tugas Pelaksanaan (Satlak) Sawit. Kedua perusahaan itu meminta Kepala Desa Gurung Sengiang untuk merekrut warga masyarakat adat menjadi anggota Satlak tersebut. Para anggota Satlak itu mendapat gaji sekitar Rp 200.000-Rp 500.000 per bulan. Yang menjadi Satlak adalah perangkat desa yakni: Kepala Desa, Kepala Dusun, BPD, Ketua RT dan juga pengurus adat. Tugas Satlak ini mensosialisasikan keberadaan kedua perusahaan tersebut kepada masyarakat adat di Desa Gurung Sengiang, sekaligus mendorong mereka menyerahkan tanah/lahannya ke kedua perusahaan tersebut. Bersama Satlak, PT SSA dan SHP mensurvei lokasi bakal kebun sawit. Mereka memberi tanda dengan cat hijau pada pohon-pohon karet, durian, tengkawang, dan tanam tumbuh milik Suku Dayak Melahui. Cat hijau itu menandai, bahwa lokasi tersebut telah disurvei dan diukur sebagai lahan calon kebun sawit. Setelah itu PT SSA dan SHP bersama Satlak, dengan buldozer, menggusur berbagai tanaman (karet, durian, tengkawang), tempat keramat dan kuburan dari lahan itu. Penggusuran itu dilakukan siang malam. Tujuannya adalah untuk mencegah protes dan perlawanan dari warga Sungai Garung. (Sumber: Riset Aksi I oleh Agustinus Agus bekerjasama antara LBBT dengan HuMa, dokumen belum dipublikasikan).

Foto, Video, dan Peta