Sedoa

Letak Geografis

Secara geografis terletak di 10 06’ 44”–20 12’53” LS dan antara 1200 05’ 09 –1.200 52’ 04” BT. Desa Sedoa terletak di Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Batas-batas wilayah administratif Kawasan Desa Sedoa adalah sebagai berikut: 1) Sebelah utara: berbatasan dengan Gunung Watungkeama, Danau Mbilao, Gunung Ungumbatu dan dengan Gunung Rore Ngkoutimbu 2) Sebelah timur: berbatasan dengan Gunung Pobelia, Gunung Mesii dan Gunung Pangasaa.

Riwayat Area

Sedoa memiliki luas wilayah desa 51.879 ha dengan pembagian bagian barat dan utara 48% (+/- 24.902) ditetapkan sebagai kawasan konservasi TNLL serta bagian timur dan selatan 46% (+/- 23.864 ha) ditetapkan sebagai hutan lindung maka masyarakat Sedoa hanya tersisa 6 % wilayah yang akan dipakai sebagai lahan pemukiman, pertanian serta sarana dan prasarana social lainnya. Dengan luasan yang disebutkan diatas, khusus untuk 6% yang diperuntukkan bagi masyarakat sedoa, maka tidak memungkinkan lagi untuk menambah lahan untuk perkebunan, pertanian dan pemukiman. Terkait dengan pengelolaan didalam kawasan hutan lindung, masyarakat Sedoa sudah mempunyai aturan dalam pengelolaannya berdasarkan kearifan lokal. Mereka membagi zona-zona mana yang boleh dikelola dan bagian mana yang tidak boleh untuk dikelola. Jadi tidak benar juga ada anggapan bahwa dengan adanya masyarakat dalam kawasan hutan lindung akan merusak hutan tersebut. Selain memakai kearifan lokal dalam pengelolaan hutan, desa ini juga membuat peraturan desa yang mengatur cara pengelolaan SDA, peraturan desa yang sudah dibuat adalah Perdes No. 6 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam Desa Sedoa. Dalam isi Perdes ini menjelaskan tata cara pengelolaan SDA dan sanksi yang diberikan kepada masyarakat apabila ada yang merusah SDA di Desa Sedoa. Menurut Badan Planologi Nasional (Baplan), peta Di kawasan Desa Sedoa hanya terdiri dari Taman Nasional Lore Lindu tidak ada wilayah administrasi desanya.

Sketsa Demografi

Desa Sedoa adalah desa tertua yang terdapat di lembah Napu- Kabupaten Poso, didiami oleh Suku Tawaelia-Pekurehua. Luas desa ini mencapai 51.879 ha dengan pembagian bagian barat dan utara 48% (+/-24.902 ha) ditetapkan sebagai kawasan konservasi TNLL serta bagian timur dan selatan 46% (+/- 23.864 ha) ditetapkan sebagai hutan lindung maka bagi masyarakat Sedoa hanya tersisa 6% wilayah yang akan dipakai sebagai lahan permukiman, pertanian serta sarana dan prasarana sosial lainnya.

Potensi Sumber Daya

Secara konteks regional, posisi kawasan Sedoa sangat strategis untuk dikembangkan menjadi kawasan pengembangan baru karena terletak pada wilayah pertengahan antara Kota Palu dan Kota Poso. Daerah ini mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan antara lain di sektor perkebunan dengan komoditi utama yang dihasilkan berupa kakao, kelapa dalam, kopi arabika, kopi robusta, cengkeh, lada, dan jambu mete. Untuk kegiatan pertanian di daerah ini tanaman pangan masih menjadi andalan yang utama berupa padi, tanaman holtikultura, dan palawija. Untuk sektor pariwisata, Pulau togean yang semakin ramai dikunjungi wisatawan mancanegara menjadi modal utama pengembangan wisata bahari, disamping itu terdapat festival Danau Poso yang pernah menjadi barometer perkembangan pariwisata, serta Taman Nasional Lore Lindu yang telah ditetapkan sebagai biosfir dunia oleh UNESCO berpotensi besar sebagai obyek eko-wisata yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.

Potret Sosial Ekonomi Masyarakat

Luas wilayah Desa Sedoa tidak berbanding dengan jumlah penduduk, hal ini terbukti dengan rata-rata 1 unit rumah didiami oleh 2-3 kepala keluarga. Hampir 100% penduduk Sedoa menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, dengan kondisi yang sekarang maka rata-rata mereka adalah “Tuna Wisma”. Laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi juga memaksa masyarakat untuk memikirkan ke depan area pengembangan yang akan dipergunakan masyarakat baik untuk pemukiman maupun untuk lahan pertanian.

Tata Guna Lahan Komunitas

Di Desa Sedoa dalam hal penguasaan tanah, menyangkut soal peruntukan, kepemilikan, dan peralihan hak atas tanah. Masyarakat di Desa Sedoa dalam kepemilikan tanah ada yang bersifat individual dan ada juga komunal/bersama. Dan pada umumnya tanah-tanah yang ada di Desa Sedoa banyak dimiliki secara individual. Tanah-tanah yang sudah dimiliki secara individu dan kolektif jarang diperjual belikan oleh masyarakatnya. Karena tanah-tanah yang sudah dimiliki tersebut, dijadikan lahan untuk perkebunan dan pertanian untuk mendukung ekonomi masyarakat. Kepemilikan lahan/tanah penduduk di Desa Sedoa sejak zaman dahulu memiliki ciri khas tersendiri. Tanah-tanah yang sudah dibuka oleh nenek moyang dahulu, diserahkan kepada anak-anaknya untuk di kelola yang dijadikan lahan perkebunan, pemukiman dan pertanian. Tanah-tanah yang sudah didapatkan tidak boleh dipindah tangankan kepada pihak lain. Tanah-tanah yang sudah ada sekarang tetap di jaga oleh masyarakat desa Sedoa. Ada beberapa cara penguasaan (kepemilikan) terhadap tanah yang berlaku: 1) Mendapatkan warisan dari orang tua, dimana tanah yang diwariskan tersebut adalah tanah yang sudah dibuka oleh orang tuanya terdahulu. Cara hidup nenek moyang orang sedoa dulunya adalah dengan cara berpindah-pindah. 2) Melalui Surat Keterangan kepemilikan tanah. Surat ini berupa kepemilikan tanah yang dikeluarkan oleh Kepala Desa dan tiap tahunnya masyarakat diwajibkan membayar PBB. 3) Bukti klaim penguasaan masyarakat telah menguasai tanah di Desa Sedoa selama puluhan tahun dapat dilihat dari: - Batang pohon kopi yang sudah hidup puluhan tahun di Desa Sedoa. - Kuburan nenek moyang orang Sedoa yang pertama kali membuka lahan untuk pemukiman dan lahan perkebunan. - Surat keterangan tanah kepemilikan tanah yang sudah dikeluarkan oleh Kepala Desa. Dalam mengelola lahan di Desa Sedoa berlaku beberapa cara pengelolaan seperti: 1) Wana Ngkiri: kawasan hutan di puncak gunung yang didominasi oleh rerumputan, lumut dan tidak lagi terdapat tumbuhan kayu menengah keatas. Kawasan ini tidak dapat dijamah oleh aktifitas manusia karena secara khusus bagi Topobaria tawaelia sedoa, kawasan ini dianggap amat penting karena sebagai sumber udara segar (pambuimarasa). Di kawasan ini tidak terdapat hak kepemilikan. 2) Wana, hutan primer tempat habitat hewan dan tumbuhan langka, kawasan tangkapan air, ditempat ini tidak terdapat aktifitas untuk membuka kebun atau lahan pertanian sebab dapat menimbulkan bencana alam. Ditempat ini hanya dapat dimanfaatkan sebagai tempat berburu, mengambil damar, rempah-rempah dan tanaman obat-obatan. 3) Pangale, kawasan hutan yang dahulu pernah diolah menjadi kebun, namun telah ditinggalkan selama berpuluh-puluh tahun dan pada akhirnya telah menjadi hutan kembali, yang dapat disebut sebagai lahan cadangan bagi komunitas Topobaria Tawaelia sedoa. Di tempat ini dapat dimanfaatkan sebagai tempat mengambil rotan dan kayu yang digunakan untuk pembangunan rumah. 4) Lopo, bekas kebun yang sudah sekian lama ditinggalkan untuk dihutankan kembali yang kemudian akan diolah kembali menjadi lahan pertanian. 5) Tananmboli, lahan yang sudah diolah namun tidak sempat ditanami dan pada akhirnya ditumbuhi oleh rerumputan. 6) Pabondea, bekas tanaman olahan yang sudah berkurang kesuburannya dan tidak menghasilkan lagi. Lahan tersebut ditinggalkan untuk sementara waktu dengan tujuan disuburkan kembali. 7) Bonde, lahan aktif yang sudah ditanami dengan tanaman tahunan dan atau bulanan yang sudah menghasilkan. 8) Lida, lahan yang digunakan untuk persawahan.

Persinggungan Dengan Kawasan Hutan

Masalah yang terjadi di Desa Sedoa ini adalah penetapan kawasan hutan lindung oleh pemerintah yang berakibat pada berkurangnya lahan-lahan yang dikelola oleh masyarakat Sedoa. Luas lahan masyarakat yang diklaim oleh pemerintah menjadi kawasan hutan lindung adalah +/- 4.262 ha. Luas lahan yang diklaim jadi kawasan hutan lindung tersebut adalah lahan-lahan yang sudah dikelola oleh masyarakat yang dijadikan perkebunan kopi, cacao dan kemiri. Dan sebagian lagi adalah untuk lahan pertanian. Konflik ini sudah berlangsung lama sejak tahun 1997 dengan adanya penetapan patok (pal batas) hutan lindung secara sepihak di kawasan Desa Sedoa. Konflik berlanjut pada tahun 2008 ketika terjadi penangkapan masyarakat Desa Sedoa dengan dalih masyarakat menggarap lahan pertanian di dalam kawasan hutan lindung. Berbagai upaya sudah dilakukan oleh masyarakat Sedoa untuk menyelesaikan kasus ini. Salah satu langkah/upaya yang dilakukan oleh masyarakat adalah dengan mengirimkan surat kepada Bupati Poso untuk meminta permohonan peninjauan kembali kawasan hutan lindung di Desa Sedoa. Konflik ini sudah berlangsung lama sejak tahun 1997 dengan adanya penetapan patok (pal batas) hutan lindung secara sepihak di kawasan Desa Sedoa. Konflik berlanjut pada tahun 2008 ketika terjadi penangkapan masyarakat Desa Sedoa dengan dalih masyarakat menggarap lahan pertanian di dalam kawasan hutan lindung. Berbagai upaya sudah dilakukan oleh masyarakat Sedoa untuk menyelesaikan kasus ini. Salah satu langkah/upaya yang dilakukan oleh masyarakat adalah dengan mengirimkan surat kepada Bupati Poso untuk meminta permohonan peninjauan kembali kawasan hutan lindung di Desa Sedoa.

Foto, Video, dan Peta