Pakis

Letak Geografis

Desa Pakis, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur memiliki luas wilayah + 2697 ha. Desa Pakis ini di sebelah utara berbatasan dengan Perhutani dan Perkebunan, desa Badean; sebelah selatan bertasan dengan Desa Kemuning; di sebelah timur bertasan dengan desa Panti; dan di sebelah barat berbatasan dengan Sungai, Desa Badean.

Riwayat Area

Wilayah konflik tenurial di Desa Pakis Kecamatan Panti terdiri dari: a. Wilayah Perkebunan Letak perkebunan Ketajek berada di lereng Selatan Pegunungan Hyang Argopuro, tepatnya sebelah Timur dari sungai Badean. Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, diperkirakan luas perkebunan Ketajek + 1.188 ha, secara administratif berada di Desa Pakis dan Desa Suci Kecamatan Panti. Sejak tahun 1973 perkebunan Ketajek dikuasai dan dikelola oleh Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Ketajek, hingga saat ini. Tanaman yang menjadi unggulan perkebunan Ketajek adalah kopi. b. Wilayah Kehutanan Kawasan hutan yang menjadi wilayah kerja sama RPH Sucidan LMDH RENGGANIS seluas + 900 hektar. Sudah sejak di lama, penduduk sekitarnya menebang kayu atau memanfaatkan tumbuhan obat yang banyak terdapat di kawasan hutan Hyang Argopuro. Kawasan lereng Selatan Pegunungan Hyang Argopuro memang memiliki plasma nuftah yang kaya. Bahkan ada sejenis tanaman kayu mengeluarkan getah yang mengandung bahan sejenis narkotika. Penduduk sekitar menamakan getah ini ‘lelet’ atau candu dan biasanya dipakai sebagai campuran saat merokok. Bahan obat alami yang diperoleh ini selalu digunakan penduduk sebagai bahan penyembuh utama saat mereka sakit. Selain pemanfaatan bahan-bahan baku tersebut, kebutuhan air bersih bagi warga dipenuhi dari mata air yang banyak terdapat di lereng Selatan Hyang Argopuro. Kawasan ini memiliki kekhasan tersendiri yakni didominasi oleh tanaman cemara gunung serta bermacam macam anggrek tanah dan hutan gunung, terdapat pula padang rumput daratan tinggi (± 2.500 m dpl). Sedangkan jenis satwa yang hidup di kawasan ini diantaranya : kijang, macan tutul, rusa, burung merak, babi hutan, dan lain-lain. Tipe hutan, flora, fauna, iklim, topografi dan faktor alam lain di kawasan ini membentuk suatu tipe ekosistem tersendiri yang khas. Peralihan fungsi hutan yang semestinya menjadi daerah resapan air malah dijadikan hutan produksi dengan penebangan yang menyebabkan terjadinya penggundulan hutan. Nyaris kondisi hutan Pegunungan Hyang Argopuro wilayah Selatan tidak ada tanaman keras atau berkayu, kalaupunada jumlahnya tidak banyak. Selain itu, sistim penanaman monokultur juga memperparah keadaan kawasan hutan lereng Hyang Argopuro.

Sketsa Demografi

Jarak Desa Pakis Kecamatan Panti dengan kota Jember + 15 km dengan kontur berbukit. Hal tersebut dikarenakan Desa Pakis terletak di lereng Selatan pegunungan Hyang Argopuro. Luas desa adalah 2697 ha dengan luas lahan non sawah 2378,5 ha. Desa ini terbagi dalam 4 dusun yaitu: Pakis Utara, Cempaka, Ketajek, Gluduk, dan Krajan dengan 6 RW dan 56 RT. Jumlah penduduk 6840 jiwa terdiri dari 3166 laki-laki dan 3314 perempuan dengan 2036 KK. Pekerjaan utama penduduk adalah petani/pekebun dengan prosentase sebesar 79 % rumah tangga menggantungkan hidup dari pertanian sub sector perkebunan dan sisanya menjadi guru, pegawai, pedagang dan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dengan tujuan utama Malaysia dan Arab Saudi. Produk utama dari desa Pakis adalah kopi dengan hasil panen pertahun + 1200 ton biji kopi (ose) varietas robusta serta sedikit varietas liberica. Produk sampingan dari desa ini adalah: durian, nangka, manggis, petai, kemundung, duku, alpukat, pisang, vanili, tanaman umbi dan obat-obatan.

Potensi Sumber Daya

Kawasan hutan yang menjadi wilayah kerja sama RPH Sucidan LMDH RENGGANIS seluas + 900 hektar. Sudah sejak di lama, penduduk sekitarnya menebang kayu atau memanfaatkan tumbuhan obat yang banyak terdapat di kawasan hutan Hyang Argopuro. Kawasan lereng Selatan Pegunungan Hyang Argopuro memang memiliki plasma nuftah yang kaya. Bahkan ada sejenis tanaman kayu mengeluarkan getah yang mengandung bahan sejenis narkotika. Penduduk sekitar menamakan getah ini ‘lelet’ atau candu dan biasanya dipakai sebagai campuran saat merokok. Bahan obat alami yang diperoleh ini selalu digunakan penduduk sebagai bahan penyembuh utama saat mereka sakit. Selain pemanfaatan bahan-bahan baku tersebut, kebutuhan air bersih bagi warga dipenuhi dari mata air yang banyak terdapat di lereng Selatan Hyang Argopuro. Kawasan ini memiliki kekhasan tersendiri yakni didominasi oleh tanaman cemara gunung serta bermacam macam anggrek tanah dan hutan gunung, terdapat pula padang rumput daratan tinggi (± 2.500 m dpl). Sedangkan jenis satwa yang hidup di kawasan ini diantaranya : kijang, macan tutul, rusa, burung merak, babi hutan, dan lain-lain. Tipe hutan, flora, fauna, iklim, topografi dan faktor alam lain di kawasan ini membentuk suatu tipe ekosistem tersendiri yang khas. Peralihan fungsi hutan yang semestinya menjadi daerah resapan air malah dijadikan hutan produksi dengan penebangan yang menyebabkan terjadinya penggundulan hutan. Nyaris kondisi hutan Pegunungan Hyang Argopuro wilayah Selatan tidak ada tanaman keras atau berkayu, kalaupunada jumlahnya tidak banyak. Selain itu, sistim penanaman monokultur juga memperparah keadaan kawasan hutan lereng Hyang Argopuro.

Potret Sosial Ekonomi Masyarakat

Salah satu dari 185 desa tersebut adalah Desa Pakis Kecamatan Panti KabupatenJ ember. Desa Pakis dipilih menjadi site lapangan karena sejak awal tahun 1960-an terjadi sengketa dan konflik tenurial antara rakyat di sekitar lereng selatan Pegunungan Hyang Argopuro dengan berbagai pemilik konsesi, perkebunan dan kehutanan. Sengketa dan konflik tenurial tersebut menjadi sumberbencana baik kerusakan sumber-sumber agraria maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat. Akibatnya padaawal 2006 lalu sebagian wilayah desa Pakis bersama dengan desa-desa disekitarnya; Suci, Kemiri, Serut dan Glagahwero luluh lantak terhantam banjir bandang. Lebih dari 70 orang menjadi kOrde Barun serta puluhan lainnya sampai saat ini belum ditemukan. Banjir bandang ini juga menyapu + 400 rumah penduduk, lebih dari 17 km jalan rusak, 16 jembatan putus, 297,3 ha persawahan hancur dan instalasi air bersih lumpuh. Serta berbagai fasilitas umum dan pendidikan hancur, yaitu; pasar, 9 dam, cekdam, 3 sekolah serta 1 pondok pesantren.

Tata Guna Lahan Komunitas

Pada tahun 1972, konflik kembali terjadi ketika pemerintah daerah Jember melakukan pengusiran dan mendirikan perusahaan daerah perkebunan (PDP) di tanah kebun Ketajek secara sepihak. Setelah mengusir warga, Pemda Jember mengajukan permohonan Hak Guna Usahaatas tanah kebun Ketajek seluas 477,78 ha kepada Menteri Dalam Negeri. Hal ini dikuatkan dengan keluarnya SK Bupati Kepala Daerah Tingkat II Jember tertanggal 10 Oktober 1973 No.84 yang berisi pembentukan Panitia Pengalihan Hak Atas Tanah kebun Ketajek I dan II.. Pengajuan HGU atas tanah Ketajek ini disetujui oleh Mendagri dan pada tahun 1974 keluar SK Menteri Dalam Negerinomor12/HGU/DA/1974 tertanggal 29 Agustus 1974. Keputusan ini disusul dengan keluarnya sertifikat HGU No.3 Tahun 1973yang menyatakan bahwa tanah Ketajek menjadi tanah HGU milik PDP Jember dan tanah Ketajek adalah tanah negara. Surat keputusan pembentukan panitia diatas seakan menjadi pengabsah perilaku sewenang-wenang serta main hakim sendiri bagi aparat dalam proses pengosongan kebun Ketajek. Tindakan yang dijalankan oleh panitia tersebut adalah dengan cara pemaksaan, perampasan, kriminalisasi. dan intimidasi.Perampasan dilakukan oleh panitia dengan menyita bukti kepemilikan tanah yaitu Petok D serta tanda bukti pembayaran pajak pembangunan (IPEDA) milik rakyat. Pemaksaan dan intimidasi dilaksanakan dengan melakukan penghitungan paksa terhadap tanaman kopi dan warga ditekan untuk mau menerima ganti rugi hasil penghitungan ini.Intimidasi dilakukan dengan tuduhan “antek PKI” bagi warga yang menolak meninggalkan tanah miliknya. Perlawanan kemudian dilakukan warga Ketajek pada 1973. Saat itu, kurang lebih 225 warga Ketajek dibawah pimpinan S.KAchmad Bazeed dkk menandatangani surat pernyataan yang menyatakan keberatan atas pengambilalihan paksa atas lahan mereka. Hasilnya adalah S.K Achmad Bazeed beserta 3 orang pemimpin warga di tahan di LP Jember.Konflik antara rakyat Ketajek dengan PDPJember yang dibantu preman memuncak pada tahun 1975 yang berakibat pada 5 rumah terbakar dan 3 orang warga meninggal. Kemudian PDP Jember mengelola tanah kebun Ketajek hingga 1998 tanpa memperdulikan akibat yang ditimbulkan kepada rakyat Ketajek.

Persinggungan Dengan Kawasan Hutan

Warga berinisiatif menghutankan kembali wilayah yang sudah rusak. Langkah yang ditempuh ialah membentuk satu organisasi petani hutan dengan tujuan utama mewujudkan kelestarian hutan dan membentuk rimba sebagai hutan yang berdampak sosial. Organisasi petani yang selanjutnya diberi nama Kelompok Tani (KT) RENGGANIS berjalan dengan dua cara. Pertama dengan membuka dan menggarap tetelan, langkah ini diambil oleh KT RENGGANIS dengan harapan mengurangi kemiskinan yang membelit. Kedua, kelompok tani (KT) RENGGANIS sejak 2005 melakukan kerja sama dengan PERHUTANI dengan membentuk LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan). Menurut pengurus RENGGANIS, keputusan membentuk LMDH ini merupakan langkah taktis strategis menanggulangi kemiskinan sekaligus ikut melestarikan hutan. Disebut taktis strategis sebab dalam prakteknya, RENGGANIS tidak hanya ikut pola pikir PERHUTANI lewat sistim LMDH/PHBM ansicht. RENGGANIS memiliki konsep pengelolaan hutan sendiri yaitu rimba sosial. Konsep/sistim rimba sosial berarti, tegakan yang ada bukan hanya kayu tahunan tetapi juga tanaman buah-buahan berkayu keras (durian, nangka, manggis, jambu darsono, rambutan dan lain-lain) atau tanaman perkebunan (kopi, vanili, dan lain-lain), dimana masyarakat dapat memperoleh hasil sekaligus menjaga kelestarian hutan karena tanaman-tanaman tersebut mampu menyerap serta menahan air. Tanpa disadari masyarakat bisa ikut mengawasi dan menjaga hutan secara langsung. Sementara untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka bisa mendapat hasil dari tanaman-tanaman semusim maupun buah-buahan yang menjadi tanaman sela. Penerapan sistim rimba sosial ini cukup efektif, terbukti dari kondisi terakhir kawasan hutan yang dikerjasamakan lewat pola PHBM dan diawasi oleh anggota RENGGANIS terawat baik vegetasinya. Pencurian kayu menurun tajam dan kerusakan lahan makin jarang terjadi. Selain itu, kelompok tani (KT) Rengganis melakukan kerjasama strategis dengan PERHUTANI KPH Jember dengan membentuk LMDH RENGGANIS, dengan mencatatkan pada notaries pada tanggal 15 Oktober 2005. Setelah kerjasama terbentuk antara dua lembaga, kawasan hutan yang menjadi wilayah kerja RPH Sucise luas +900 hektar dipakai sebagai wilayah kelola bersama. Anggota LMDH RENGGANIS, hingga pendataan terakhir + 600 RTP (Rumah Tangga Petani) dengan 1800 jiwa tergabung. LMDH RENGGANIS memiliki beberapa simpul wilayah yaitu : Pakis, Badean, Sumber Urang, Sumber Baong, Ketajek, Jalan Gunung, Klabang, Sembah Pokang dan Magersaren, (Sumber: Hasil Penelitian SD Inpers bersama HuMa).

Foto, Video, dan Peta