O’o Parese

Letak Geografis

Desa O’o adalah sebuah Desa yang terdapat di wilayah Kecamatan Kulawi selatan Kabupaten Sigi, Sulawesi Selatan. Desa O’o berada di sekitar 18 km dari Desa Bolapapu dan Pemerintah setempat memasukkan Desa O’o menjadi bagian kecamatan Kulawi Selatan. Desa O’o yang pada saat ini berbatas dengan Sebelah Barat berbatas dengan Desa Winatu, Sebelah Timur berbatas dengan Desa Toro, Sebelah Selatan berbatas dengan Desa Watukilo, Sebelah Utara berbatas dengan Desa Bolapapu. Wilayah kelola masyarakat Desa Oo terletak antara 1° 34’ 08.1" s/d 1° 34’ 58.8” Lintang Selatan, dan 120° 01’ 53.8” s/d 120° 02’ 20.2” Bujur Timur.

Riwayat Area

Pada tahun 1930-an seorang yang bernama Willy Sambeda sebagai mandor dalam pembuatan sarana jalan wilayah Kulawi Pipikoro datang membuat jembatan pada salah satu sungai yang dinamakan sungai O’o. Di saat itu juga Willy Sembada dengan melihat Kondisi Alam Desa O’o Cocok untuk permukiman, maka dengan membawa keluarganya Kaleb Soho, Willy Sembada sambil membangun jembatan dan untuk berkebun bersama temannya. Dan pada tahun 1940 datang beberapa keluarga,2 untuk bermukim di Desa O’o yaitu Tadu Gana, Parese (Tama Lantara) Tama Sanu, Burutu giso, Niko, Tama Sasi dan Yan Gilo Giso, dengan adanya pertambahan keluarga di permukiman baru ini, dan bersepakat untuk mengelola kawasan peladangan dan hutan sesuai dengan Hukum adat yang mereka bawa dari Desa Asal. Setelah melakukan permohonan kepada Tetua-Tetua Ngata To Kulawi untuk pengelolaan dan mendiami kawasan yang termasuk kedalam Tanah Ulayat Adat Kulawi, prosesi secara adat ini berlangsung kihdmat, yang artinya bahwa permohonan tersebut di setujui diserahkan dan di kelola masyarakat desa O’o untuk mengelola kawasan tersebut juga mengikuti ketentuan-ketentuan adat yang sebelumnya berlaku di tanah yang di olah tersebut. Persetujuan oleh tetua Ngata Kulawi ini di ketahui dan terima oleh Kepala Distrik Kulawi di sebabkan karena melihat jumlah penduduk dan luasan tanah yang di kelola sudah memenuhi persyaratan maka Kepala Distrik sekaligus tetua ngata di kulawi menyerahkan tanah adat kulawi kepada masyarakat adat Desa O’o untuk Kampung dan pengolahan lahan pertanian di seputar Daerah Aliran Sungai (DAS) Miu yang kemudian saat ini masuk ke dalam Taman Nasional Lore Lindu (TNLL).

Sketsa Demografi

Desa O’o memiliki Luas Adminitrasi 7,168 Ha (2.025) Km, dengan Jumlah penduduk 1059 jiwa dengan 251 kk. Penduduk Masyarakat Adat Desa O’o tidak berbanding Lurus, hal ini dibuktikan dengan pertambahan Penduduk yang Meningkat Pertahunnya, hal ini di buktikan juga dengan meningkatnya Jumlah KK Miskin4, bahwa dari Tahun 2006 hanya 30 KK dan pada tahun 2010 itu telah menjadi 80 KK Miskin, artinya penguasaan (kepemilikan) terhadap tanah adat di Desa O’o jika dibagi habis untuk Masyarakat Adat Desa O’o dan Masyarakat Adat akan mendapatkan rata-rata Per-KK 0,5 ha.

Potensi Sumber Daya

Kawasan Desa O'o sangat panas cukup potensial untuk ditanami coklat, kopi, kayu manis dan tanaman palawija. Dalam mengelola lahan masyarakat memberlakukan beberapa cara pengelolaan seperti: a. Membuka dan mengelola lahan dengan tangan sendiri. b. Dengan sistem upah. Upah ini diberikan dalam bentuk uang, dengan perhitungan masa kerjanya dan besar upah disepakati antara yang punya tanah dengan orang yang bekerja. Sistem ini dilakukan karena yang pemilik lahan tidak mampu untuk mengelola tanahnya sendiri.

Potret Sosial Ekonomi Masyarakat

Masyarakat Desa O’o pada dasarnya hidup di sektor pertanian, perladangan tahunan, dimana masyarakat adat membuka lahan kebun untuk menanam padi ladang, jagung, kopi, kakao, kayu manis dan tanaman lainnya. Tanaman produksi yang paling utama bagi mereka adalah kakao. Sedangkan dari hutan mereka mengambil rotan dan kayu sebagai bahan bangunan atau yang mereka sebut sebagai ramuan rumah. Masyarakat Adat Desa O’o dalam mengelola Tanah dan Kawasan Hutan Adat Desa O’o dimanfaatkan untuk bersawah dan perkebunan coklat. Selama ini masyarakat tergantung kepada hasil coklat ini untuk menopang perekonomian keluarga. Awal budaya bercocok tanam masyarakat dimulai dengan penanaman coklat dan ini sudah dilakukan puluhan tahun sejak nenek moyang masyarakat Desa O’o membuka lahan untuk perkebunan. Cara pembukaan areal/lahan oleh masyarakat untuk kebun adalah landclearing dan kemudian dibakar, setelah itu baru dilakukan penanaman. Harga coklat 1 kg di Desa ini berkisar antara 20.000-25.000. Dari hasil wawancara yang dilakukan, TNLL melakukan penebangan terhadap coklat masyarakat dan menggantinya menjadi tanaman pohon-pohonan. Dan tentu saja ini berdampak terhadap berkurangnya pendapatan ekonomi masyarakat yang didapat dari hasil coklat ini.

Tata Guna Lahan Komunitas

Masyarakat Adat Desa O’o dalam menentukan kawasan pengelolaan Tanah dan Hutan memiliki Konsep-konsep adat, yaitu: - Maradika (Kepala Kampung), mengatur hubungan ngata (kampung) dengan ngata lain yang disebut ”Hintuwu Ngata”, Menentukan perang dengan ngata lain, tempat pengambilan keputusan terakhir. - Totua Ngata, mengatur dan mengawasi aturan adat yang disepakati dalam musyawarah, Memimpin dan melaksanakan setiap upacara adat, menentukan besar kecilnya sanksi adat atas pelanggaran, memimpin sidang menyangkut penyelesaian perselisihan pada tingkat dusun atau kampung, mengatur pelaksanaan perkawinan adat serta menentukan besar kecilnya mas kawin menurut keturunan dari keluarga yang bersangkutan serta menentukan kawaan hutan yang harus di jaga dan kawasan mana yang bisa di kelola oleh masyarakat adat Desa O’o. Pengelolaan wilayah dalam memenuhi Kebutuhan dan Penghidupan Masyarakat Adat Desa O’o memiliki Konsep adat yang disebut huaka. Jadi Huaka To O’o itu berarti (wilayah kehidupan orang O’o). Sedangkan pengelolaan sumber daya alam dalam bahasa local disebut Katuvua. Terkait dengan Huaka dan Katuvua ini, Masyarakat adat Desa O’o punya tata cara pembagian wilayah dan pemanfaatannya secara tradisional. Tetua Adat O’o membagi wilayah kehidupannya dalam beberapa Zona wilayah, antara lain: - Wana Ngkiki, Wana, Pangale dan Oma. - Wana Ngkiki yaitu kawasan hutan yang terletak dipuncak-puncak gunung, bersuhu dingin, ditumbuhi lumut, jauh dari pemukiman dan tidak ada aktivitas manusia di dalamnya. Wana yaitu hutan rimba yang luas dan tutupannya rapat. Pada tingkatan ini tidak ada aktivitas manusia untuk membuka ladang atau kebun, karena kalau dibuka menurut pengetahuan tradisionalnya dapat mengakibatkan bencana kekeringan karena Wana ini adalah hutan primer yang menyangga dan menjaga ketersedian air. - Pangale yaitu hutan yang berada di pegunungan dan dataran. Pangale termasuk kategori hutan sekunder yang bercampur dengan hutan primer karena sebagian sudah ada aktivitas manusia atau telah diolah menjadi ladang. Pangale dipersiapkan untuk kebun dan daerah datarannya untuk persawahan. Pangale ini dimanfaatkan juga untuk: Mengambil kayu dan rotan yang digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga, Pandan hutan dipergunakan untuk membuat tikar dan bakul, Obat-obatan untuk perawatan kesehatan, Wewangian Umbut dan daun melinjo untuk sayuran. Konsep Pangale ini sudah hampir menyerupai hutan sekunder dan semi hutan primer, pohon-pohonnya sudah tumbuh besar. Karena itu kalau dibuka kembali menjadi peladangan masyarakat, maka untuk menebangnya sudahharus menggunakan Pongko (tempat menginjakan kaki yang terbuat dari kayu) yang agak tinggi dari tanah agar dapat menebang dengan baik sama seperti Mopangale (membuka hutan Pangale), agar dari tonggak pohon yang ditebang tadi diharapkan dapat tumbuh tunas kembali sehingga sesuai dengan namanya yaitu Pahawa Pongko. Pahawa artinya Ganti, sedangkan Pongko artinya Tangga atau tempat menginjakkan kaki pada waktu menebang. Konsep adat yang lain dalam pengelolaan Tanah Ulayat dan Kawasan Hutan adat, maka masyarakat Adat Desa O’o adalah ; a. Oma yaitu hutan bekas ladang atau kebun yang sering diolah pada tingkatan ini disebut oma dimanfaatkan untuk menanam kopi, kakao dan tanaman tahunan lainnya. Berdasarkan umur dan pemanfaatannya tingkatan oma ini dibagi menjadi: - Oma Ntua - Oma Ngura - Oma Ngkuku - Balingkea (gilir balik) b. Oma Pahawa Pongko yaitu hutan bekas kebun yang telah ditinggalkan yang berumur 25 tahun ke atas.

Persinggungan Dengan Kawasan Hutan

Dengan adanya penetapan TNLL di Desa O’o terjadi tumpang tindih antara lahan yang dikelola oleh masyarakat dan Kawasan TNLL. Tumpang tindih ini terjadi akibat tidak jelasnya tapal batas yang dilakukan oleh TNLL dan perubahan-perubahan dalam pemancangan tapal batas. Berdasarkan berita acara tata batas TNLL pada tanggal 17 Maret 1995, tidak ada kejelasan tapal batas hanya jumlah keseluruhan areal saja, tidak menentukan bahwa Gunung Ntalipo di wilayah Desa O’o masuk dalam kawasan. Pada tahun 2004 pemasangan pal rekonstruksi yang dilakukan oleh TNLL tidak mengikuti palpal rintisan sehingga masuk dalam kebun masyarakat dan TNLL tidak mengkonfirmasi kepada masyarakat sebagai pemilik kebun. Setelah adanya penangkapan terahadap masyarakat adat desa O’o pada tahun 2007-2008, masyarakat desa O’o mulai mempertanyakan dan mendorong sengketa ini kepada Bupati Sigi untuk turut serta menyelesaikan sengketa Kawasan Hutan. Dan Luasan kawasan hutan adat Desa O’o secara menyeluruh seluas 138,76 ha dengan batas-batas yang berbenturan oleh TNLL. Dengan ada TNLL di Desa O’o berdampak terhadap menurunnya pendapatan ekonomi masyarakat yang selama ini sudah bergantung pada hasil perkebunan coklat. Ada sebagian lahan-lahan yang sudah ditanami oleh masyarakat untuk perkebunan coklat sudah berganti menjadi tanaman pohon-pohonan pada saat program reboisasi yang dilakukan oleh TNLL. Pada saat ini masyarakat kekurangan lahan, karena +/- 65 ha lahan yang dulunya dimiliki oleh masyarakat sekarang masuk dalam kawasan TNLL. Masalah diperparah setelah peta perencanaan berbeda dengan kenyataan yang ada, dimana kelihatan bahwa pal-pal (yang dalam peta wilayah kelola masyarakat itu ada pada sisi barat), ternyata justru berada di luar dari peta Taman Nasional Lore Lindu. Artinya bahwa larangan dan kriminalisasi yang dialami oleh Masyarakat Desa Oo selama ini adalah tidak berdasar, karena ada perbedaan antara peta penetapan TNLL dan keberadaan pal-pal batas TNLL di lapangan. Dalam hal ini menunjukkan bahwa terjadi pelanggaran mendasar atas hak-hak dasar masyarakat di Desa Oo.

Foto, Video, dan Peta