Cirompang

Letak Geografis

Secara administratif, Desa Cirompang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Sobang Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Batas administratif Desa Cirompang meliputi: sebelah Barat Berbatasan dengan Desa Sindang Laya Kecamatan Sobang (Batas alam Sungai Citujah). Sebelah utara berbatasan dengan Desa Sukaresmi Kecamatan Sobang (Batas alam Sungai Cikiruh, Pasir Pinang, Jalan Raya Cibeas-Cimerak). Sebelah timur berbatasan dengan Desa Sukamaju Kecamatan Sobang (Batas alam Sungai Cibitung, Pamatang Pasir Pinang, Jalan Saidun). Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Citorek Timur-Tengah-Barat Kecamatan Cibeber (Batas alam Gunung Kendeng membujur dari Barat ke Timur).

Riwayat Area

Untuk jumlah populasi di Desa Cirompang, hasil diskusi dengan Jaro Sarinun (Jaro adalah sebutan untuk Kepala Desa) menyebutkan bahwa secara umum hingga akhir tahun 2012 jumlah penduduk Desa Cirompang mencapai 500 KK atau 1.530 Jiwa (perempuan 773 jiwa dan laki-laki 757 jiwa) yang tersebar di enam kampung. Jika dibandingkan dengan data tahun 2008, ada kenaikan jumlah penduduk 45 KK (116 jiwa). Dituturkan oleh Jaro Sarinun bahwa Desa Cirompang terdiri dari 2 Pangiwa (istilah untuk RK) dan 10 RT; 1 RK terdiri atas 5 RT.

Sketsa Demografi

Saat ini penduduk Desa Cirompang mencapai 500 KK atau 1.530 Jiwa (perempuan 773 jiwa dan laki-laki 757 jiwa) yang tersebar di enam kampung. Masyarakat Kasepuhan Cirompang sejak dulu hingga sekarang masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka terutama dalam menata dan mempertahankan sumberdaya alam. Mereka membagi lahan kawasannya sebagai berikut: Leuweng Kolot, Tanah Garapan, Titipan, Tanah Pangangonan/Sempalan, Tanah adat (merupakan wilayah milik bersama).

Potensi Sumber Daya

Desa Cirompang yang terletak di ketinggian sekitar 800 – 1.000 mdpl (di atas permukaan laut). Pemandangan alam yang indah; lansekap alam yang berkontur (berbukit) dengan hamparan sawah dan hijaunya pohon. Berdasarkan ketinggian tempat, Desa Cirompang masuk dalam kawasan hulu DAS Ciujung-Ciliman yang mengalir ke hilir (Jabotabek). beberapa sungai yang mengalir melewati desa mereka yaitu Sungai Cirompang, Cikatomas, Cilulupang, Ciodeng, dan Citujah yang kawasan hulunya berada di sekitar Pasir Lame dan Gunung Kendeng yang merupakan area kebun campuran kayu-buah (dudukuhan) dan hutan (leuweung). Sebaran vegetasi yang ada di Desa Cirompang mencakup tanaman hutan (Kayu Rasamala, Puspa, Mahoni, Pasang, Maranti), tanaman kebun campuran kayu dan buah/dudukuhan (Afrika, Jengjeng, Aren, Nangka, Durian, Rambutan, Picung, Bambu, Kopi, Dadap, Kelapa), dan tanaman pangan yang dibudidayakan di sawah dan huma (Padi, Jagung, Kacang Panjang, Pisang, Waluh, Kukuk, Singkong, Ubi, Lengkuas/Laja, Jahe). Juga ada tanaman obat (Cecenet, Capeu, Kumis Ucing, Jawer Kotok). Menurut penuturan masyarakat bahwa jenis padi yang dibudidayakan di sawah yaitu Sri Kuning, Raja wesi, Gantang, Cere, Ketan Jangkung, Ketan langasari, Ciherang, Pandanwangi, Super, dan Sadane. Lahan sawah dan kebun petani Desa Cirompang banyak yang letaknya agak jauh dari perkampungan. Jarak waktu yang dibutuhkan menuju persawahan sekitar 1.5 – 2 jam jalan kaki hingga ke lahan sawah.

Potret Sosial Ekonomi Masyarakat

Sejak pertama kali kami datang ke Desa Cirompang tahun 2008 lalu hingga sekarang, untuk menuju ke sana pilihan kendaraan yang memungkinkan bisa kendaraan roda dua (umum / ojeg) dan kendaraan roda empat, dengan jarak tempuh sekitar 5 – 6 jam dari kota Bogor. Kondisi jalan aspal dan sebagian masih berbatu, walaupun pada beberapa ruas jalan sudah ada perbaikan sejak tahun 2011-an. Jarak dari wilayah desa ke pusat pemerintahan Kecamatan Sobang sekitar 3 - 4 km dengan waktu tempuh 20 menit. Sedangkan jarak ke pusat pemerintahan Kabupaten Lebak (Rangkasbitung) sekitar 70 km dengan waktu tempuh 3 jam (kendaraan ojeg dan mini bus).

Tata Guna Lahan Komunitas

Pemetaan partisipatif pun dilakukan oleh masyarakat Cirompang pada tahun 2009. Diawali dengan proses pengumpulan peta dasar (peta rupa bumi) yang meliputi Desa Cirompang untuk melihat tata batas wilayah, tata guna lahan, dan peta konflik lahan serta melihat potensi dan pola pengelolaan sumberdaya alam yang dilakukan warga Kasepuhan Cirompang. Kemudian dilakukan klarifikasi sketsa desa yang dibuat oleh masyarakat dengan mengundang tetangga desa (Desa Sindanglaya, Sukaresmi, Citorek Timur, Citorek Barat dan Citorek Tengah) termasuk pihak Kecamatan Sobang. Diskusi dengan pihak TNGHS dan Kabupaten Lebak dilakukan terkait dengan pelaksanaan pemetaaan partisipatif ini. Pelaksanaan pemetaan didahului dengan pelatihan teknis lalu pengambilan titik dan penggambaran (digitasi dan overlay). Setelah itu dilakukan klarifikasi hasil pemetaan ini pada pihak terkait seperti tetangga desa, TNGHS, Kecamatan Sobang dan Pemkab Lebak. Hasil peta meliputi peta status lahan, tata guna lahan dan peta overlay dengan zonasi TNGHS. Pengesahan peta dilakukan pada tanggal, 29 Juni 2009 didahului dengan verifikasi di tingkat masyarakat, Pemdes Cirompang, Pemkab Lebak, dan TNGHS Seksi Lebak. Kepala Desa Cirompang juga mengeluarkan Surat Kepala Desa No. 1/SK 01/VI/2009 tentang Penegasan Tim Pelaksana Teknis Pemetaan Cirompang yang merupakan bentuk dukungan konkrit secara tertulis yang dikeluarkan oleh Kepala Desa kepada warganya yang telah bekerja keras untuk memperoleh pengakuan dari negara atas lahan garapannya.

Persinggungan Dengan Kawasan Hutan

Masyarakat Kasepuhan Cirompang merupakan incu putu atau keturunan dari Kasepuhan Citorek dan Ciptagelar. Masyarakat yang tinggal di Desa Cirompang ini merupakan masyarakat adat yang masih memegang tradisi turun-temurun. Mereka memiliki kelembagaan adat untuk menata kehidupan masyarakat dan masih memiliki kearifan dalam mengelola sumber daya alam. Namun mereka merasa ‘tidak aman’ karena sebagian besar (lebih dari 50%) wilayah desanya masuk dalam wilayah pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), termasuk sawah dan kebun yang menjadi sumber penghidupan mereka. Hal ini terjadi sebagai imbas dari adanya SK Menhut No.175/Kpts-II/2003 tentang perluasan kawasan TNGHS (Taman Nasional Gunung Halimun) dari 40.000 ha menjadi 113.000 ha dengan nama TNGHS (Taman Nasional Gunung Halimun Salak). Masyarakat mulai menggarap di kawasan kehutanan sebelum tahun 1942-an. Pada masa gerombolan DI/TII sekitar tahun 1968-1970-an, masyarakat masih melakukan kegiatan pertaniannya di kawasan garapan kehutanan. Meskipun demikian, pada masa gerombolan tersebut masyarakat merasa tidak nyaman dan ketakutan pada saat menggarap lahan walaupun gerombolan tidak menganggu aktivitas masyarakat dalam menggarap lahan. Pada tahun 2008, ada masyarakat Citorek yang yang ikut menggarap di kawasan Cirompang terutama di kawasan kehutanan blok Cibebek. (Sumber: Riset Aksi I oleh Ratnasari dan Eman Sulaeman RMI)

Foto, Video, dan Peta