Cerita dari Wana (2)

Titik Berangkat

“Ngopi dulu Bung” sanggah Edi Wicaksono, Staf Program Hutan Adat Yayasan Merah Putih di sela-sela perbincangan. Kami sedang berdiskusi mengenai apa yang hendak kami pelajari di tempat belajar kami nanti, di Wana Posangke, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Mas Sentot memaparkan lebih dulu maksud dan tujuan mengenai kebudayaan agraria. Gayung bersambut oleh Azmi Sirajudin, manajer program Yayasan Merah Putih yang memaparkan kondisi sosial serta kebiasaan-kebiasaan orang Wana.

Edi dan Jaka ambil giliran. Paparkan kondisi lapangan dengan dua rute tempuh. Pertama, via Kolonodale, dengan jalur darat 8 jam, disambung perjalanan laut ke Baturube dengan perahu selama 6 jam. Rute kedua adalah via Luwuk, dengan jalur darat selama 21 jam, ditambah jalur darat kembali ke Baturube selama 6 jam.

Beruntung hujan turun deras, menyebabkan kami singgah lama di kantor Yayasan Merah Putih. Lampu pijar pun tiba-tiba mucul di kepala dan menemukan ide soal rute penerbangan. Rupanya rute penerbangan ke Luwuk kini dibuka tiap hari. Pada akhirnya kami memutuskan untuk terbang ke Luwuk dan melanjutkan ke Baturube via jalur darat.  Ini memangkas 20 jam waktu tempuh.

IMG_1274

Derap langkah kaki dimulai. Setelah berbasah-basahan menyebrangi sungai, terdapat lereng perbukitan nan-curam, di atasnya pepohonan masih tegap berdiri. Di bagian timur laut Cagar Alam Morowali, tepatnya di aliran sungai Morowali itulah Orang Wana tersebar dalam beberapa kelompok mukim atau disebut lipu.

Empat lipu kami sambangi selama lima belas hari total perjalanan, yakni Lipu Pumbatu, Lipu Sumbol, Lipu Saliasarao dan Lipu Fyautiro. Masing-masing lipu ditempuh dalam pendakian dengan jarak kurang-lebih satu jam perjalanan. Menyusuri hutan dan menyebrangi sungai.

IMG_1228

Kini di lereng perbukitan itu, menyeruak sejumlah padang holtikultura, padang rumput terpangkas rapi, hamparan padi telah menguning diselimuti perbukitan sejuk dengan tutupan pohon yang rapat. Di sana tinggal beberapa penduduk Wana. Kekuatan-kekuatan sosial mereka terpendar dalam lanskap-lanskap harapan.

“Wana adalah sebutan orang-orang luar, mereka sendiri menamakan dirinya sebagai Orang Taa. Mereka terpinggirkan akibat perang regional yang berlangsung abad ke-19 dan juga akibat  proyek resettlement pada zaman Belanda. Orang yang mendiami hutan disebut Orang Wana, kata Wana sendiri berasal dari Bahasa Hindi artinya ‘hutan’.” begitu papar Pardi staf Yayasan Merah Putih mengutip Atkinson dalam bukunya The Art and Politics of Wana Shamanship (1989). (Bersambung).

IMG_1303

*Foto dan teks oleh Agung Wibowo

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>