Cerita dari Wana (3-Habis)

IMG_1254

“Wah, Ini luar biasa!” Ujar Mas Sentot seraya tersenyum lebar. Gantungan gabah padi itu terlihat segar dan kuning. “Ini sedang musim panen” ujar Apa Imel salah seorang masyarakat dari Lipu Pumbatu. Seorang ibu menumbuk padi di alu dengan tenaga yang kuat. Ia menyiapkan makan malam untuk kami di Lipu Sumbol.

Ini suatu kemewahan bagi kami, dapat memakan beras segar yang baru dipanen. “Biasanya lebih ramai dan ada padungku (pesta panen), tapi  panen kali ini tidak terlalu banyak hasilnya,” papar Apa Imel yang rumahnya kami tinggali.

IMG_1208

Saya yakin makanan dan minuman tak hanya habis ceritanya di mulut atau di meja makan saja. Ia memberikan arti lebih. Misalnya pada Pesta Teh Boston (1773). Teh tak hanya dapat diartikan sebagai minuman. Sebab teh di Boston jadi bentuk perlawanan rakyat ketika melakukan protes pajak komoditas dari Britania Raya. Mereka larungkan teh-teh tersebut di Pelabuhan Boston.

Atau Orang-Orang Eropa pada abad 14 begitu mendewakan rempah-rempah sebagai penemuan baru (invention) dan membuat mereka terobsesi untuk mengarungi dunia. Ini pulalah yang terjadi pada budaya kuliner di Wana Posangke. Meski makanan dan minuman tersaji secara  sederhana, tapi kaya akan makna.

Mereka kerap membuat dui, makanan semacam papeda di Papua, tetapi terbuat dari singkong. “Dulu ketika masih banyak pohon sagu di hutan kami buat dari sagu” begitu kata Indo Imel, seorang Ibu dari Lipu Pumbatu.

Tak kehabisan akal, mereka pun jadikan sagu dari singkong, termasuk jadi kuliner alternatif pengganti nasi. Turunan makanan dari singkong ini juga dapat dibuat pelbagai macam kudapan, salah satunya seperti pada gambar ini.

IMG_1458

Singkong jadi panganan kaya gizi, diolah dalam pelbagai rupa. Ini merupakan kuliner alternatif ketika menunggu panen atau ketika gagal panen sekalipun.

Lantunan Musik Wana

Musik Wana tak sekadar lantunan nada-nada merdu. Musik ini jadi akar gagasan mereka usai melakukan tambatan relasi mereka dengan alam.

IMG_1549

Suara jangkrik dan kepik mengiringi simfoni dari sang maestro musik Wana. Mereka melantunkan irama kehangatan bersama alam, seraya berkata bahwa ini adalah rumah kita sendiri.

IMG_1536

Popondo adalah alat musik terbuat dari kayu, tempurung kelapa, dan senar. Popondo/Talindo ini merupakan alat musik jenis sitar berdawai satu (one stringed stick zilher). Tempurung kelapa berfungsi sebagai resonator. Alat musik ini dimainkan secara tunggal setelah Orang Wana merayakan pesta panen dan untuk mengisi waktu senggang.

IMG_1499

Geso-geso adalah alat musik terbuat dari kayu dan tempurung kelapa yang diberi dawai. Cara membunyikan dawai adalah dengan digesek melalui alat khusus yang terbuat dari bilah bambu dan tali, sehingga menimbulkan suara khas. Alat ini mengeluarkan nada sesuai dengan tekanan jari si pemain pada dawai.

IMG_1317

Tersenyumlah. karena perjuangan belumlah berakhir. Cheers!

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>